Masihkah
Surga Menungguku di Sana?
12
Oktober 1999
Aku
dilahirkan dari rahim ibuku
Membutuhkan
perjuangan yang sangat kuat
Keringat
demi keringat menetes dari seluruh tubuh ibu
Seluruh
tenaga dikeluarkannya demi menyelematkanku
Terdengar
teriakan yang begitu histeris
Jerit
tangis juga terdengar begitu keras
Dan
akhirnya ...
Pada
pukul 04.30 WIB aku dilahirkan
Aku
bisa melihat dunia ciptaan Tuhan yang begitu besar dan indah
Terdengar
tangisku yang keras
Tubuhku
penuh darah, dan tubuhku yang mungil diselimuti dengan timal
Terima
kasih Tuhan, Engkau telah menciptakan aku ke dunia dengan selamat
Terima
kasih Bunda, engkau telah mempertaruhkan nyawamu untukku
“Selamat ya
Bapak. Anak perempuan anda terlahir dengan selamat. Lucu dan cantik sekali.”
Kata dokter.
“Iya, saya sangat senang
sekali, Dok.saya lansung mengadzani dia. Terima kasih, Dok.” Ucap ayah dengan
senang.
Beberapa saat kemudian ayah mendekatkan bayi itu ke
pelukan ibunya. Setelah keadaan sang ibu membaik, dokter mengizinkan ibu
tersebut pulang. Begitu bahagianya pasangan suami istri itu. Ibunya pun
menggendong anak perempuannya.
“Ayah,
anak kita diberi nama siapa ya?” Tanya sang ibu.
“Dia
begitu imut dan cantik, Bu. Bagaimana kalau kita beri nama ayu?”
“Bagus
sekali. Tetapi aku ingin memberi nama Vira untuk putri kita, yah.”
“Baiklah,
Bu. Nama yang cantik. Ayah setuju.” Kata sang ayah.
Vira
dirawat oleh orangtuanya dengan senang. Dia bisa meraskan dan menikmati rasa
kasih sayang dari orang tuanya. Hingga 5 tahun telah berlalu. Vira beranjak menjadi
anak-anak yanglucu dan cantik. Pada suatu saat, Ayahnya akan mengantarkannya ke
sekolah TK.
“Sayang,
hari in dalah awal pertama kamu masuk sekolah. Hari ininpertama kamu belajar
dan mendapatkan pendidikan. Juga hari pertama kamu mencari teman. Jadi,
nikmatilah hari ini dengan senang hati, Nak. Ayah percaya kamu pasti bisa.”
Kata ayahnya.
“Baiklah
Ayah. Akan aku usahakan sebisaku. Apa sih yang enggak untuk Ayah?” jawab Vira
dengan senang.
Di
perjalanan Vira memandangi ayahnya dan memperhatikan ayahnya mengendarai mobil.
Dia tersenyum sendiri sambil terus memandangi ayahnya. Ayahnya merasa ada yang
aneh terhadap Vira. Ayah Vira tertawa melihat tatapan Vira yang lucu, matanya
bulat seperti boneka terus melihat ayahnya.
“Ada apa,
Nak?” tanya sang ayah.
“Ayah,
Vira ingin mengendarai mobil seperti Ayah, lalu Vira bisa balapan sama Ayah.
Kalau Ayah menang, Ayah boleh melakukan apa saja ke Vira. Tetapi, kalau Vira
yang menang, saatnya Vira cium Ayah.”
“Kamu
memang anak Ayah yang lucu.” Ucap ayah Vira.
Tiba di
sekolah, Ayah Vira mengantarnya ke ruang pendaftaran. Da sangat senang melihat
banyak teman sebayaya di sana, Ayahnya meninggalkan Vira dan pergi ke kantor.
Vira merasa ceria karena dia bisa mendapatkan teman sebanyak itu.
Vira
mempunyai prestasi yang luar biasa. Dia sering mendapatkan nilai yang tinggi.
Tetapi orang tuanya jarang memperdulikannya. Lama-kelamaan orang tua Vira sibuk
dengan pekerjaannya sendiri. Bahkan tidak ada waktu sedikitpun untuk anaknya.
“Bunda, kepalaku pusing sekali. Bunda
mau mengambilkan obat?” pinta Vira kepada bundanya.
“Vira, Bunda sedang sibuk. Kamu tidak
melihat ya? Mungkin itu hanya sakit kepala biasa. Kamu minta tolong ayah saja.”
“Tapi,Bunda……” ucap Vira terhenti.
“Sudahlah Nak. Kamu minta tolong ayahmu
saja.” kata sang bunda.
“Kamu tidak berhak berbicara seperti
itu. Vira itu anakmu, juga anak kita. Jadi tolong perhatikan dia! Aku tahu kamu
sibuk dengan pekerjaanmu. Tetapi tolong berikan sedikit waktu untuknya.” ucap
ayah Vira dengan geram.
“Kenapa kamu selalu membelanya? Dia
sudah bisa mengerti dirinya. Dia juga sudah bisa mengatur dirinya. Vira bukan
anak kecil lagi. Jadi biarkanlah dia mandiri.” jawab bunda Vira.
Waktu demi waktu berlalu, sekarang Vira
berada di bangku kelas 5 SD. Ada saat itu, dia bermain bersama temannya. Tiba –
tiba kepalanya pusing sekali. Entah kenapa sekarang nilainya sering turun dan
dia juga sering merasa pusing. Dia pingsan dan teman – temannya membawanya ke
dokter.
“Apakah ada salah satu anggota
keluargamu yang dating ke sini?” tanya dokter.
“Tidak, Dok. Memangnya saya sakit apa?
Apa yang terjadi denganku, Dokter? Dok, saya minta beritahu saya tentang penyakit
saya. Saya sering pusing dan kepala saya sakit sekali rasanya. Saya minta,
jangan sampai salah satu dari keluarga saya yang mengetahui penyakit saya,
Dok.”
“Nak, sebenarnya saya berat sekali untuk
mengatakan semua ini, tepi kamu juga harus tahu kamu mengidap penyakit kanker
otak stadium 4. Kenapa kamu tidak memeriksakan keadaanmu ke dokter sejak dulu,
Nak?” kata dokter.
“Apa Dok? Orang tua saya jarang
memperhatikan saya. Mereka sering bertengkar juga karena saya. Jadi saya mohon
Dok, jangan bilang siapapun tentang penyakit saya.”
Gadis kecil yang
sangat tegar. Batin sang dokter.
Semenjak kejadian itu, orang tua Vira sering
bertengkar. Mereka saling salah paham. Ayah Vira sangat marah dengan Bunda Vira
karena sikapnya yang kasar kepada Vira. Vira sering mendengar pertengkaran
orang tuanya di rumah. Dia menagis, karena dia merasa bahwa dia penyebab dari
semua ini. Hingga pada akhirnya ayah Vira memutuskan untuk bercerai dengan ibu
Vira. Ibi Vira pergi ke rumahnya sendiri meninggalkan Vira dan ayahnya tanpa
pamit kepada Vira.
Vira pulang ke rumah. Dia melihat
ayahnya yang sedang duduk membaca koran dan menikmati secangkir kopi di ruang
keluarga. Vira mendekati ayahnya dan ingin berbicara kepada ayahnya.
“Ayah……”
“Iya Sayang. Kamu sudah pulang?” tanya
ayah Vira.
“Iya Yah. Hari ini ada jam pelajaran
kosong. Yah, Bunda di mana?”
“Oh. Bundamu sedang berada di rumah
nenek, Nak” jawab sang ayah.
Vira langsung berlari ke kamarnya. Dia
menangis atas kejadian semua ini. Dia mengira, gara – gara dia orang tuanya
menjadi seperti sekarang ini. Mereka berpisah hingga ibunya meninggalkan Vira
dan ayahnya. Lalu, dia mengambil sebuah diary yang akan ditulisnya.
10 January 2010
Dear diary……
Pada suatu hari aku bermimpi……
Aku bertemu dengan seorang malaikat……
Dia mengajakku menu surga……
Tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya……
Di sana indah sekali……
Aku bertemu dengan ayah dan bundaku……
Mereka tersenyum sambil memelukku……
Aku berharap itu akan terjadi pada diriku……
Hidupku mungkin tidak lama lagi……
Hari demi hari, detik demi detik, hanya itulah yang
bisa kuhitung……
Masihkah surge menungguku di sana?……
Meukah dia bertemu dengan gadis kecil sepertiku dan
menaruhku di pangkuannya……
Aku hanya bisa menghitung hari……
Dan itu pasti akan terjadi kepadaku……
Malaikat pencabut nyawa tidak lama lagi akan
menjemputku……
11 Januari 2009
Tuhan…
Aku mint, persatukanlah ayah dan bundaku…
Aku ingin mereka kembali seperti dulu lagi…
Menjadi keluarga yang sangat bahagia…
Mereka yang bahagia ketika ada seorang malaikat kecil
yang hadir dalam hidupnya…
Tapi… semuanya menjadi berubah…
Hanya karena aku, malaikat kecil yang dibanggakan oleh
orang tuaku, mereka menjadi seperti ini…
Sebenarnya perpisahan ini tidak aku inginkan…
Ayah…
Kembalilah kepada bunda…
Bawalah bunda kembali ke sini…
Hanya itu permintaan terakhirku sebelum aku menutup
mataku dan menghembuskan nafas terakhirku…
Aku minta ayah…
Buat bunda bahagia dan jagalah bunda sampai kapanpun…
Sebelum kepergianku…
Hanya ini yang aku inginkan ayah…
Keesokan harinya,
ketika akan pergi ke sekolah, Vira merasa pusing dan badannya lemas sekali. Dia
pingsan dan ayahnya segera membawanya ke dokter.
“Bapak, bisakah saya berbicara sebentar
dengan Anda?” tanya dokter.
“Iya Dok. Silahkan.” jawab ayah Vira.
“Bapak, sebenarnya Vira telah mengidap
penyakit kanker otak stadium 4.” kata dokter.
“Apa Dok?!” bentak ayah Vira.
“Memang dulu Vira pernah ke sini, dia
pasien saya. Tetapi dia tidak mau ada anggota keluarganya yang tahu.”
“Ya Tuhan… Vira…”
Ayah Vira menangis. Dan pada saat itu
juga Vira menghembuskan nafas terakhirnya. Dia akan menuj surge seperti yang
dia inginkan. Tetesan air mata terus keluar dari mata ayahnya. Malaikat
kecilnya harus pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Setelah sehari kematian Vira, ayah Vira
membereskan kamar anaknya. Tidak sengaja ayahnya menemukan sebuah buku diary
milik Vira. Ayah Vira membuka dan membacanya. Tetes air mata terus keluar
membasahi pipi ayah Vira.
Ayah Vira langsung menemui ibu Vira dan
menceritakan semua yang telah terjadi. Hanyalah penyesalan yang ada pada diri
ibunya. Dan supaya Vira bahagia di sana, ayah dan ibu Vira kembali menjadi
keluarga bahagia yang akan selalu mengenang malaikat kecilnya untuk selama –
lamanya.
T A M A T
(The End)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar