Sabtu, 27 April 2013

Masihkah Surga Menungguku di Sana?


Masihkah Surga Menungguku di Sana?
12 Oktober 1999
Aku dilahirkan dari rahim ibuku
Membutuhkan perjuangan yang sangat kuat
Keringat demi keringat menetes dari seluruh tubuh ibu
Seluruh tenaga dikeluarkannya demi menyelematkanku
Terdengar teriakan yang begitu histeris
Jerit tangis juga terdengar begitu keras
Dan akhirnya ...
Pada pukul 04.30 WIB aku dilahirkan
Aku bisa melihat dunia ciptaan Tuhan yang begitu besar dan indah
Terdengar tangisku yang keras
Tubuhku penuh darah, dan tubuhku yang mungil diselimuti dengan timal
Terima kasih Tuhan, Engkau telah menciptakan aku ke dunia dengan selamat
Terima kasih Bunda, engkau telah mempertaruhkan nyawamu untukku
        “Selamat ya Bapak. Anak perempuan anda terlahir dengan selamat. Lucu dan cantik sekali.” Kata dokter.
“Iya, saya sangat senang sekali, Dok.saya lansung mengadzani dia. Terima kasih, Dok.” Ucap ayah dengan senang.
Beberapa saat kemudian ayah mendekatkan bayi itu ke pelukan ibunya. Setelah keadaan sang ibu membaik, dokter mengizinkan ibu tersebut pulang. Begitu bahagianya pasangan suami istri itu. Ibunya pun menggendong anak perempuannya.
        “Ayah, anak kita diberi nama siapa ya?” Tanya sang ibu.
        “Dia begitu imut dan cantik, Bu. Bagaimana kalau kita beri nama ayu?”
        “Bagus sekali. Tetapi aku ingin memberi nama Vira untuk putri kita, yah.”
        “Baiklah, Bu. Nama yang cantik. Ayah setuju.” Kata sang ayah.
        Vira dirawat oleh orangtuanya dengan senang. Dia bisa meraskan dan menikmati rasa kasih sayang dari orang tuanya. Hingga 5 tahun telah berlalu. Vira beranjak menjadi anak-anak yanglucu dan cantik. Pada suatu saat, Ayahnya akan mengantarkannya ke sekolah TK.
        “Sayang, hari in dalah awal pertama kamu masuk sekolah. Hari ininpertama kamu belajar dan mendapatkan pendidikan. Juga hari pertama kamu mencari teman. Jadi, nikmatilah hari ini dengan senang hati, Nak. Ayah percaya kamu pasti bisa.” Kata ayahnya.
        “Baiklah Ayah. Akan aku usahakan sebisaku. Apa sih yang enggak untuk Ayah?” jawab Vira dengan senang.
        Di perjalanan Vira memandangi ayahnya dan memperhatikan ayahnya mengendarai mobil. Dia tersenyum sendiri sambil terus memandangi ayahnya. Ayahnya merasa ada yang aneh terhadap Vira. Ayah Vira tertawa melihat tatapan Vira yang lucu, matanya bulat seperti boneka terus melihat ayahnya.
        “Ada apa, Nak?” tanya sang ayah.
        “Ayah, Vira ingin mengendarai mobil seperti Ayah, lalu Vira bisa balapan sama Ayah. Kalau Ayah menang, Ayah boleh melakukan apa saja ke Vira. Tetapi, kalau Vira yang menang, saatnya Vira cium Ayah.”
        “Kamu memang anak Ayah yang lucu.” Ucap ayah Vira.
        Tiba di sekolah, Ayah Vira mengantarnya ke ruang pendaftaran. Da sangat senang melihat banyak teman sebayaya di sana, Ayahnya meninggalkan Vira dan pergi ke kantor. Vira merasa ceria karena dia bisa mendapatkan teman sebanyak itu.
        Vira mempunyai prestasi yang luar biasa. Dia sering mendapatkan nilai yang tinggi. Tetapi orang tuanya jarang memperdulikannya. Lama-kelamaan orang tua Vira sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Bahkan tidak ada waktu sedikitpun untuk anaknya.
        “Bunda, kepalaku pusing sekali. Bunda mau mengambilkan obat?” pinta Vira kepada bundanya.
        “Vira, Bunda sedang sibuk. Kamu tidak melihat ya? Mungkin itu hanya sakit kepala biasa. Kamu minta tolong ayah saja.”
        “Tapi,Bunda……” ucap Vira terhenti.
        “Sudahlah Nak. Kamu minta tolong ayahmu saja.” kata sang bunda.
        “Kamu tidak berhak berbicara seperti itu. Vira itu anakmu, juga anak kita. Jadi tolong perhatikan dia! Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Tetapi tolong berikan sedikit waktu untuknya.” ucap ayah Vira dengan geram.
        “Kenapa kamu selalu membelanya? Dia sudah bisa mengerti dirinya. Dia juga sudah bisa mengatur dirinya. Vira bukan anak kecil lagi. Jadi biarkanlah dia mandiri.” jawab bunda Vira.
        Waktu demi waktu berlalu, sekarang Vira berada di bangku kelas 5 SD. Ada saat itu, dia bermain bersama temannya. Tiba – tiba kepalanya pusing sekali. Entah kenapa sekarang nilainya sering turun dan dia juga sering merasa pusing. Dia pingsan dan teman – temannya membawanya ke dokter.
        “Apakah ada salah satu anggota keluargamu yang dating ke sini?” tanya dokter.
        “Tidak, Dok. Memangnya saya sakit apa? Apa yang terjadi denganku, Dokter? Dok, saya minta beritahu saya tentang penyakit saya. Saya sering pusing dan kepala saya sakit sekali rasanya. Saya minta, jangan sampai salah satu dari keluarga saya yang mengetahui penyakit saya, Dok.”
        “Nak, sebenarnya saya berat sekali untuk mengatakan semua ini, tepi kamu juga harus tahu kamu mengidap penyakit kanker otak stadium 4. Kenapa kamu tidak memeriksakan keadaanmu ke dokter sejak dulu, Nak?” kata dokter.
        “Apa Dok? Orang tua saya jarang memperhatikan saya. Mereka sering bertengkar juga karena saya. Jadi saya mohon Dok, jangan bilang siapapun tentang penyakit saya.”
Gadis kecil yang sangat tegar. Batin sang dokter.
        Semenjak kejadian itu, orang tua Vira sering bertengkar. Mereka saling salah paham. Ayah Vira sangat marah dengan Bunda Vira karena sikapnya yang kasar kepada Vira. Vira sering mendengar pertengkaran orang tuanya di rumah. Dia menagis, karena dia merasa bahwa dia penyebab dari semua ini. Hingga pada akhirnya ayah Vira memutuskan untuk bercerai dengan ibu Vira. Ibi Vira pergi ke rumahnya sendiri meninggalkan Vira dan ayahnya tanpa pamit kepada Vira.
        Vira pulang ke rumah. Dia melihat ayahnya yang sedang duduk membaca koran dan menikmati secangkir kopi di ruang keluarga. Vira mendekati ayahnya dan ingin berbicara kepada ayahnya.
        “Ayah……”
        “Iya Sayang. Kamu sudah pulang?” tanya ayah Vira.
        “Iya Yah. Hari ini ada jam pelajaran kosong. Yah, Bunda di mana?”
        “Oh. Bundamu sedang berada di rumah nenek, Nak” jawab sang ayah.
        Vira langsung berlari ke kamarnya. Dia menangis atas kejadian semua ini. Dia mengira, gara – gara dia orang tuanya menjadi seperti sekarang ini. Mereka berpisah hingga ibunya meninggalkan Vira dan ayahnya. Lalu, dia mengambil sebuah diary yang akan ditulisnya.

10 January 2010
Dear diary……
Pada suatu hari aku bermimpi……
Aku bertemu dengan seorang malaikat……
Dia mengajakku menu surga……
Tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya……
Di sana indah sekali……
Aku bertemu dengan ayah dan bundaku……
Mereka tersenyum sambil memelukku……
Aku berharap itu akan terjadi pada diriku……
Hidupku mungkin tidak lama lagi……
Hari demi hari, detik demi detik, hanya itulah yang bisa kuhitung……
Masihkah surge menungguku di sana?……
Meukah dia bertemu dengan gadis kecil sepertiku dan menaruhku di pangkuannya……
Aku hanya bisa menghitung hari……
Dan itu pasti akan terjadi kepadaku……
Malaikat pencabut nyawa tidak lama lagi akan menjemputku……

11 Januari 2009
Tuhan…
Aku mint, persatukanlah ayah dan bundaku…
Aku ingin mereka kembali seperti dulu lagi…
Menjadi keluarga yang sangat bahagia…
Mereka yang bahagia ketika ada seorang malaikat kecil yang hadir dalam hidupnya…
Tapi… semuanya menjadi berubah…
Hanya karena aku, malaikat kecil yang dibanggakan oleh orang tuaku, mereka menjadi seperti ini…
Sebenarnya perpisahan ini tidak aku inginkan…
Ayah…
Kembalilah kepada bunda…
Bawalah bunda kembali ke sini…
Hanya itu permintaan terakhirku sebelum aku menutup mataku dan menghembuskan nafas terakhirku…
Aku minta ayah…
Buat bunda bahagia dan jagalah bunda sampai kapanpun…
Sebelum kepergianku…
Hanya ini yang aku inginkan ayah…

Keesokan harinya, ketika akan pergi ke sekolah, Vira merasa pusing dan badannya lemas sekali. Dia pingsan dan ayahnya segera membawanya ke dokter.
        “Bapak, bisakah saya berbicara sebentar dengan Anda?” tanya dokter.
        “Iya Dok. Silahkan.” jawab ayah Vira.
        “Bapak, sebenarnya Vira telah mengidap penyakit kanker otak stadium 4.” kata dokter.
        “Apa Dok?!” bentak ayah Vira.
        “Memang dulu Vira pernah ke sini, dia pasien saya. Tetapi dia tidak mau ada anggota keluarganya yang tahu.”
        “Ya Tuhan… Vira…”
        Ayah Vira menangis. Dan pada saat itu juga Vira menghembuskan nafas terakhirnya. Dia akan menuj surge seperti yang dia inginkan. Tetesan air mata terus keluar dari mata ayahnya. Malaikat kecilnya harus pergi meninggalkannya untuk selamanya.
        Setelah sehari kematian Vira, ayah Vira membereskan kamar anaknya. Tidak sengaja ayahnya menemukan sebuah buku diary milik Vira. Ayah Vira membuka dan membacanya. Tetes air mata terus keluar membasahi pipi ayah Vira.
        Ayah Vira langsung menemui ibu Vira dan menceritakan semua yang telah terjadi. Hanyalah penyesalan yang ada pada diri ibunya. Dan supaya Vira bahagia di sana, ayah dan ibu Vira kembali menjadi keluarga bahagia yang akan selalu mengenang malaikat kecilnya untuk selama – lamanya.
T A M A T
(The End)


Selasa, 16 April 2013

Masa yang Penuh Perjuangan



“Masa yang Penuh Perjuangan”
Namaku Asih. Aku adalah anak desa. Desaku bernama Asri. Letaknya di pegunungan yang masih banyak hutan belantara. Suasana di desaku saat pagi hari selalu sejuk, banyak burung berkicau tetapi menjelang siang suasana menjadi sangat suram. Ibuku selalu bercerita tentang sifat para penjajah yang kejam, jahat, sadis dan licik yang sedang menjajah wilayah kami dan memperlakukan kami seperti binatang.
            Aku ingin sekali sekolah dan mendapat banyak teman. Tetapi itu hanya ada dalam bayanganku karena orang-orang jepang dengan sangat keras melarang anak perempuan bersekolah. Aku pernah bertanya kepada seseorang “Pak kenapa anak perempuan dilarang sekolah?”, lalu orang tersebut menjawab “Gak usah banyak tanya kamu anak kecil”. Aku sempat kaget mendengar jawaban tersebut tetapi aku juga berfikir alangkah baiknya bertanya kepada ibuku saja. Lebih aman dan tak mengambil resiko. Aku segera pulang dan ingin cepat mendengar jawaban dari pertanyaan yang membuatku penasaran itu. Sesampainya di rumah aku langsung bertanya, “Bu kenapa sih anak perempuan gak boleh sekolah?”, ibu diam sejenak, lalu menjawab dengan suara pelan dan hampir tak terdengar “Anak perempuan gak boleh sekolah karena di larang keras oleh para kompeni”. Lalu aku bertanya lagi “Kenapa kita tak melawan bu?”, ibu pun langsung pergi ke kamar dan membawa sebuah foto, ya itu foto kakekku yang meninggal beberapa tahun lalu ketika aku berusia sekitar 1 tahun, dengan menangis ibu menceritakan semua kejadian yang menimpa kakekku. Setelah aku mendengarkan cerita itu, aku menjadi tau penyebabnya kenapa perempuan penduduk sekitar hanya di rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau bekerja di kebun-kebun milik penjajah. Orang laki-laki di desa kamipun juga selalu dipaksa untuk bekerja dan tidak menghiraukan kami yang sedang sakit ataupun berpuasa.
Maka dari itu banyak penduduk di desa kami yang mati karena sakit yang tidak terobati dan mati karena kelaparan. Upah yang diberikanpun tidak sebanding dengan pekerjaan kami yang sangat membutuhkan tenaga. Jika kami melawan tak banyak dari kami yang di beri hukuman, di asingkan ke luar pulau atau pun hukuman mati. Sering juga di saat melakukan kesalahan, kami tidak di beri upah sedikitpun, sampai-sampai kami harus mengganti kerusakan tersebut dengan bekerja tanpa diberi upah dalam beberapa hari. Kami juga di mintai upeti setiap hari.
            Ayahku merupakan salah satu orang yang sangat menentang penjajahan pada waktu itu. Beliau juga yang membuat strategi perang dan sekaligus memimpin perang untuk melawan penjajah. Tapi setiap perang melawan penjajah tidak ada satupun strategi perang yang berhasil. Kami selalu gagal dan memakan banyak korban jiwa  Pada waktu itu penyerangan kami masih bersifat kedaerahan dan mudah sekali digoyahkan dengan cara di adu domba. Tetapi semua itu berubah saat kami mendengar berita proklamasi kemerdekaan yang kami ketahui dari surat kabar.
Kemerdekaan yang telah kami tunggu-tunggu sekian lama. Kemerdekaan hasil jerih payah kami. Puncak dari pengorbanan kami dalam berusaha mengusir penjajah dari negara kami. Dan sejak saat itu terbentuklah negara yang merdeka,dan berdaulat. Namun, suatu hari Sekutu datang dan ingin menguasai indonesia kembali. Tetapi karena persatuan dan kesatuan negara kami sangat kokoh maka sekutu tersebut tidak dapat menguasai kembali indonesia. Para pejuang yang terdiri atas anggota BKR dan para pemuda menolak kedatangan Sekutu dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaan RI.
Jadi kita yang sekarang menjadi anak indonesia harus bangga dan belajar dengan rajin agar kelak akan dapat memajukan bangsa. Tetaplah belajar dengan rajin dan tetap memelihara persatuan dan kesatuan! Karena dengan persatuan dan kesatuan kita akan tetap berdiri kokoh dan tak ada yang bisa memecahkannya.

Aku dan Citaku Waktu itu



“Aku dan Citaku Waktu itu”
                Hari demi yang ku lewati sangat kelam dan mungkin pemikiran masyarakat yang ada di sini juga sama denganku. Kami harus selalu mengapdi pada Jepang jikalau kami tak menurutinya kami akan jadi santapan buaya-buaya besar. Oh, Iya perkenalkan namaku Afi umurku 13 tahun. Aku adalah anak keturunan suku jawa.
            Banyak orang yang berjuang dalam penjajahan ini termasuk ayahku. Tetapi banyak pula yang tewas, mereka selalu tidak di makamkan dengan baik ada yang di buang begitu saja ke sungai ada pula yang hanya di biarkan sampai mereka membusuk. Aku dan teman – teman sebayaku mempunyai ide untuk memakamkan mereka dengan layak tanpa sepengetahuan tentara Jepang. Jika kami ketahuan maka di penggalah kepala kami satu persatu.
            Hari ini tepat dengan bulan puasa, tetapi menurutku sama saja dengan hari yang lain karena kami sudah terbiasa di beri makan 1 kali sehari bahkan kami pernah tak makan sama sekali hanya meminum air sungai yang mentah dan kotor untuk melepas dahaga.
            Hari ini entah hari apa aku tak tau nama hari karena di desaku tak ada seorangpun yang pernah menginjakan kakinya di sekolah. Bukan karena kami tak mau tapi tidak ada sekolah di desa kami. Walaupun begitu kami tetap semangat dan kami tau pagi,siang,sore dan malam. Pagi-pagi buta kami harus membuat batu bara yang panas tanpa sapu tangan tapi sudah terbiasa merasakan panas itu sampai-sampai tangan kami hitam seperti kuali wajan.
            Sampai sore kami terus bekerja dengan terus di awasi oleh tentara Jepang yang berkumis tebal itu. Setiap aku melihatnya aku selalu penasaran apakah kumis itu asli atau palsu tetapi jika aku bertanya bukannya aku mendapat jawaban tapi mungkin aku bakal kena marah maka lebih baik aku diam. Tiba – tiba kerumunan teman – teman seperjuanganku datang yang dulunya muka mereka kusut, udah berubah kayag abiz di setrika.
Mereka memeluk dan mencubit pipiku secara bergantian dan berkata “Rek ngerti kabar apik ra?” tanya mereka. Lalu ku jawab “durung emange opo to?” kemudian mereka menjawab “Jepang kalah lawan sekutu !”. Kemudian aku mencerna perkataan itu sekitar 5 menit tetapi aku belum mendapat titik terang sama sekali sampai – sampai mereka menjitak kepalaku -_-“. Lalu aku bertanya “Terus napo to rek ?”, mereka menjawab “Ya Allah, sabar ampunilah dosa-dosaku dan teman-temanku, dosa apa sampai aku punya teman sepertinya ?” lalu aku mencubit lengannya dan berkata “Untung wayane nduwe konco seng imut karo manis koyog aku !”.
            Menjelang maghrib kami di kumpulkan untuk di beri makan. Yang ku dengar hanyalah berita kekalahan Jepang saja dari tadi. Untung tentara Jepang tidak ada yang tau bahasa kami jadi kami merasa aman. Ketika kami sedang bersenda gurau tiba – tiba tentara Jepang menghampiri kami dan mengambil jatah makananku. Aku marah “Biuh, aku sek mangan sak sendok wes di jupuk la konco-koncoku liane kok ra di jupuk panganane. Awas yo pilih kasih lek sok aku dadi presidenmu ra tak kei pakan genti we !” gerutu dalam hati. Teman-temaku menertawakanku, akupun tak kehabisan akal ku ambil jatah mereka karena aku yang paling kecil aku berkata “seng gedhe ngalah ra mesakne seng cilik :-P” merek marah tetapi hanya mengelus-ngelus dada dan berkata “SABAR” secara serempak.
            Keesokan harinya kami mendapat berita yang sangat menarik yaitu Indonesia akan merdeka, kamipun senang. Tetapi tetap saj perjuangan tak sampai disini saja kita harus melanjutkan perjuangan para pahlawan kita yang telah berjasa terhadap semuanya. AKU BANGGA JADI ANAK INDONESIA