“Masa
yang Penuh Perjuangan”
Namaku Asih. Aku adalah
anak desa. Desaku bernama Asri. Letaknya di pegunungan yang masih banyak hutan
belantara. Suasana di desaku saat pagi hari selalu sejuk, banyak burung
berkicau tetapi menjelang siang suasana menjadi sangat suram. Ibuku selalu
bercerita tentang sifat para penjajah yang kejam, jahat, sadis dan licik yang
sedang menjajah wilayah kami dan memperlakukan kami seperti binatang.
Aku
ingin sekali sekolah dan mendapat banyak teman. Tetapi itu hanya ada dalam
bayanganku karena orang-orang jepang dengan sangat keras melarang anak
perempuan bersekolah. Aku pernah bertanya kepada seseorang “Pak kenapa anak
perempuan dilarang sekolah?”, lalu orang tersebut menjawab “Gak usah banyak
tanya kamu anak kecil”. Aku sempat kaget mendengar jawaban tersebut tetapi aku
juga berfikir alangkah baiknya bertanya kepada ibuku saja. Lebih aman dan tak
mengambil resiko. Aku segera pulang dan ingin cepat mendengar jawaban dari
pertanyaan yang membuatku penasaran itu. Sesampainya di rumah aku langsung
bertanya, “Bu kenapa sih anak perempuan gak boleh sekolah?”, ibu diam sejenak,
lalu menjawab dengan suara pelan dan hampir tak terdengar “Anak perempuan gak
boleh sekolah karena di larang keras oleh para kompeni”. Lalu aku bertanya lagi
“Kenapa kita tak melawan bu?”, ibu pun langsung pergi ke kamar dan membawa
sebuah foto, ya itu foto kakekku yang meninggal beberapa tahun lalu ketika aku
berusia sekitar 1 tahun, dengan menangis ibu menceritakan semua kejadian yang
menimpa kakekku. Setelah aku mendengarkan cerita itu, aku menjadi tau
penyebabnya kenapa perempuan penduduk sekitar hanya di rumah untuk mengerjakan
pekerjaan rumah atau bekerja di kebun-kebun milik penjajah. Orang laki-laki di
desa kamipun juga selalu dipaksa untuk bekerja dan tidak menghiraukan kami yang
sedang sakit ataupun berpuasa.
Maka dari itu banyak
penduduk di desa kami yang mati karena sakit yang tidak terobati dan mati
karena kelaparan. Upah yang diberikanpun tidak sebanding dengan pekerjaan kami
yang sangat membutuhkan tenaga. Jika kami melawan tak banyak dari kami yang di
beri hukuman, di asingkan ke luar pulau atau pun hukuman mati. Sering juga di
saat melakukan kesalahan, kami tidak di beri upah sedikitpun, sampai-sampai
kami harus mengganti kerusakan tersebut dengan bekerja tanpa diberi upah dalam
beberapa hari. Kami juga di mintai upeti setiap hari.
Ayahku
merupakan salah satu orang yang sangat menentang penjajahan pada waktu itu. Beliau
juga yang membuat strategi perang dan sekaligus memimpin perang untuk melawan
penjajah. Tapi setiap perang melawan penjajah tidak ada satupun strategi perang
yang berhasil. Kami selalu gagal dan memakan banyak korban jiwa Pada waktu itu penyerangan kami masih
bersifat kedaerahan dan mudah sekali digoyahkan dengan cara di adu domba. Tetapi
semua itu berubah saat kami mendengar berita proklamasi kemerdekaan yang kami
ketahui dari surat kabar.
Kemerdekaan yang telah
kami tunggu-tunggu sekian lama. Kemerdekaan hasil jerih payah kami. Puncak dari
pengorbanan kami dalam berusaha mengusir penjajah dari negara kami. Dan sejak
saat itu terbentuklah negara yang merdeka,dan berdaulat. Namun, suatu hari Sekutu
datang dan ingin menguasai indonesia kembali. Tetapi karena persatuan dan
kesatuan negara kami sangat kokoh maka sekutu tersebut tidak dapat menguasai
kembali indonesia. Para pejuang yang terdiri atas anggota BKR dan para pemuda
menolak kedatangan Sekutu dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaan RI.
Jadi kita yang sekarang menjadi anak indonesia harus
bangga dan belajar dengan rajin agar kelak akan dapat memajukan bangsa.
Tetaplah belajar dengan rajin dan tetap memelihara persatuan dan kesatuan!
Karena dengan persatuan dan kesatuan kita akan tetap berdiri kokoh dan tak ada
yang bisa memecahkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar