Selasa, 16 April 2013

Masa yang Penuh Perjuangan



“Masa yang Penuh Perjuangan”
Namaku Asih. Aku adalah anak desa. Desaku bernama Asri. Letaknya di pegunungan yang masih banyak hutan belantara. Suasana di desaku saat pagi hari selalu sejuk, banyak burung berkicau tetapi menjelang siang suasana menjadi sangat suram. Ibuku selalu bercerita tentang sifat para penjajah yang kejam, jahat, sadis dan licik yang sedang menjajah wilayah kami dan memperlakukan kami seperti binatang.
            Aku ingin sekali sekolah dan mendapat banyak teman. Tetapi itu hanya ada dalam bayanganku karena orang-orang jepang dengan sangat keras melarang anak perempuan bersekolah. Aku pernah bertanya kepada seseorang “Pak kenapa anak perempuan dilarang sekolah?”, lalu orang tersebut menjawab “Gak usah banyak tanya kamu anak kecil”. Aku sempat kaget mendengar jawaban tersebut tetapi aku juga berfikir alangkah baiknya bertanya kepada ibuku saja. Lebih aman dan tak mengambil resiko. Aku segera pulang dan ingin cepat mendengar jawaban dari pertanyaan yang membuatku penasaran itu. Sesampainya di rumah aku langsung bertanya, “Bu kenapa sih anak perempuan gak boleh sekolah?”, ibu diam sejenak, lalu menjawab dengan suara pelan dan hampir tak terdengar “Anak perempuan gak boleh sekolah karena di larang keras oleh para kompeni”. Lalu aku bertanya lagi “Kenapa kita tak melawan bu?”, ibu pun langsung pergi ke kamar dan membawa sebuah foto, ya itu foto kakekku yang meninggal beberapa tahun lalu ketika aku berusia sekitar 1 tahun, dengan menangis ibu menceritakan semua kejadian yang menimpa kakekku. Setelah aku mendengarkan cerita itu, aku menjadi tau penyebabnya kenapa perempuan penduduk sekitar hanya di rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau bekerja di kebun-kebun milik penjajah. Orang laki-laki di desa kamipun juga selalu dipaksa untuk bekerja dan tidak menghiraukan kami yang sedang sakit ataupun berpuasa.
Maka dari itu banyak penduduk di desa kami yang mati karena sakit yang tidak terobati dan mati karena kelaparan. Upah yang diberikanpun tidak sebanding dengan pekerjaan kami yang sangat membutuhkan tenaga. Jika kami melawan tak banyak dari kami yang di beri hukuman, di asingkan ke luar pulau atau pun hukuman mati. Sering juga di saat melakukan kesalahan, kami tidak di beri upah sedikitpun, sampai-sampai kami harus mengganti kerusakan tersebut dengan bekerja tanpa diberi upah dalam beberapa hari. Kami juga di mintai upeti setiap hari.
            Ayahku merupakan salah satu orang yang sangat menentang penjajahan pada waktu itu. Beliau juga yang membuat strategi perang dan sekaligus memimpin perang untuk melawan penjajah. Tapi setiap perang melawan penjajah tidak ada satupun strategi perang yang berhasil. Kami selalu gagal dan memakan banyak korban jiwa  Pada waktu itu penyerangan kami masih bersifat kedaerahan dan mudah sekali digoyahkan dengan cara di adu domba. Tetapi semua itu berubah saat kami mendengar berita proklamasi kemerdekaan yang kami ketahui dari surat kabar.
Kemerdekaan yang telah kami tunggu-tunggu sekian lama. Kemerdekaan hasil jerih payah kami. Puncak dari pengorbanan kami dalam berusaha mengusir penjajah dari negara kami. Dan sejak saat itu terbentuklah negara yang merdeka,dan berdaulat. Namun, suatu hari Sekutu datang dan ingin menguasai indonesia kembali. Tetapi karena persatuan dan kesatuan negara kami sangat kokoh maka sekutu tersebut tidak dapat menguasai kembali indonesia. Para pejuang yang terdiri atas anggota BKR dan para pemuda menolak kedatangan Sekutu dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaan RI.
Jadi kita yang sekarang menjadi anak indonesia harus bangga dan belajar dengan rajin agar kelak akan dapat memajukan bangsa. Tetaplah belajar dengan rajin dan tetap memelihara persatuan dan kesatuan! Karena dengan persatuan dan kesatuan kita akan tetap berdiri kokoh dan tak ada yang bisa memecahkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar