MASIHKAH KAU MENGINGATKU?
11 Juli 2011
Dear diary, hari
ini sangat membosankan. Kupikir MOS itu kegiatan yang asyik, tapi aku malah
dapat mala petaka yang tak terduga sama sekali. Jika kau menjadi diriku
sekarang, pasti rasanya malas untuk masuk sekolah besok, karena apa kau
tahu?... karena seseorang yang sangat
menyebalkan harus satu kelompok denganku.
Dia terlalu lebay dan sok keren!. Aku sangat benci padanya.
Itulah kutipan diary Delia,
seorang siswi yang sedang menjalani MOS yang sangat membosankan baginya.
Seorang laki-laki bernama Bondan adalah penyebabnya. Tak ada yang pernah
melihat mereka akur dalam sedetikpun, walau dalam situasi yang tak mendukung
sekalipun. “Jangan banyak berkomentar, kamu pikir kamu yang paling hebat
disini, jangan bermimpi terlalu tinggi.
Sebaiknya lihat dulu dirimu!” kata Delia pada Bondan. Tak mau kalah, Bondan
balik membalas “Kamu ini perempuan cerewet ya, selalu berkomentar panjang
lebar, apa kamu pikir yang mendengar tidak bosan?” ejek Bondan. Begitulah setiap hari, selama ini, tak pernah
ada yang melihat mereka akur.
Menjelang hari ulang tahun
sekolah, semua terlihat sibuk untuk menyiapkan kelasnya, hal itu juga terjadi
pada kelas Delia. Pada suatu sore yang cerah, semua murid kelas VII berkumpul
untuk menghias stand untuk ulang
tahun sekolah besok. Tak ketinggalan Delia dan Bondan, terlihat mereka sedang
beradu mulut lagi, “Kamu lihat tidak, teman-teman sedang sibuk mempersiapkan
semuanya untuk besok, kamu malah enak-enakan mendengarkan musik disini” tegur
Bondan. Delia membalas dengan perkataan yang membuat Bondan menyingkir darinya,
“Terserah apa yang ingin kulakukan, memangnya kamu siapa, orang tuaku?
Seenaknya menegurku.”
Malam harinya, sehabis
pulang dari rumah teman dekatnya, Bondan mengendarai sepeda motor dengan
kencang, dan peristiwa naas pun terjadi. Tulang tangan Bondan patah dan ia
harus absen dari sekolah untuk beberapa minggu. Siapa yang menyangka, saat
peristiwa naas itu terjadi, Delia gelisah dan tak bisa tidur di rumahnya,
firasatnya selalu mengatakan hal yang buruk. Ketika Delia mendengar kabar itu
keesokan harinya, dia merasa ada bagian yang hilang dari hidupnya, dan pensi
Dies Natalis sekolahnya terasa amat membosankan. Ia sendiri bertanya-tanya,
mengapa dia merasakan kegelisahan yang amat mendalam.
Hari-hari di kelas Delia
tak lagi meriah. Karena Bondan yang sedang terbaring menahan sakit di
tangannya. Ingin sekali Delia bertanya bagaimana kabarnya, namun rasa gengsi
menutupi semua itu.
********
Setelah beberapa minggu
berlalu, Bondan kembali masuk sekolah. Semua merasa senang, dan kericuhan
kembali terjadi. Delia tak tahu mengapa hatinya menjadi sejuk kembali dan ceria
seperti biasanya. Dia tak terlalu memikirkan tentang apa yang dia rasakan.
Hari-hari selanjutnya,
sudah pasti terjadi kericuhan-kericuhan dan perdebatan yang membuat siapapun
yang mendengarnya tak bisa menahan tawa. “Cepetan minggir, halangin orang yang
mau lewat saja” gertak Bondan, “Kamu itu ya, baru saja masuk sekolah sudah membuat
keributan denganku. Awas ya kalau macam-macam, aku akan memberikanmu sesuatu
yang lebih buruk daripada melepas gips ditanganmu sebelum waktunya” ancam
Delia. Namun Bondan yang sudah bosan pergi berlalu begitu saja, dan itu membuat
Delia menjadi semakin dendam padanya.
*******
Hari berganti hari,
semester satu berlalu begitu cepat bagai angin yang berhembus. Dan liburan
semester tiba, tak sedikitpun raut bahagia yang terintas di wajah Delia. Ia
menganggap liburan ini adalah hal yang paling membosankan dalam hidupnya.
Orangtuanya terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga Delia hanya
bisa berdiam diri di rumah menghabiskan liburannya.
Sesaat, terlintas wajah
Bondan dibenaknya, membuatnya gelisah ta karuan lagi dan rasanya ingin sekalii
menghubunginya dan menanyakan apa yang dilakukannya selama liburan ini. “oh
tuhan, mengapa jadi seperti ini, mengapa aku selalu memikirkannya. Sungguh hal
yang tak penting dalam hidupku ini” Delia berkata dalam hati dengan memejamkan
matanya hingga terlelap tidur.
Keesokan paginya, ia bangun
dengan malasnya dan menyalakan TV di kamarnya. Tayangan di TV sangat
mengingatkannya pada dirinya sendiri, yaitu tentang kebencian yang berubah
menjadi cinta yang luar biasa.”Oh....tidakk!” pekiknya gundah. Setelah hari itu,
Delia tak bisa sedetikpun tanpa Bondan yang dipikirkannya. Ia berharap, semoga
hari sekolah cepat datang.
*******
Pagi itu Delia bangun
kesiangan, padahal inilah hari yang ia tunggu-tunggu. Dampaknya adalah ketika
ia harus berbarengan menuju kelas dengan Bondan. Sepertinya, dari raut wajah
mereka, terlihat jika mereka salah tingkah dan pipi mereka merona. Bondan yang
ingin memulai perdebatan namun malah berakhir dengan senyuman canggung dari
Delia. Rasanya hari itu seperti terbang tinggi sampai ke Jupiter.
Di kelaspun mereka jarang
lagi terlibat cekcok dan ini membuat teman-teman mereka heran. Hingga salah
satu dari teman sekelas mereka berpikir bahwa kebencian yang selama ini ada
pada mereka berubah menjadi cinta. Dan setiap mereka berpapasan atau terlihat
sedikit akrab saja, teman-teman mereka tidak segan-segan untuk menyorakinya.
“Kau tak boleh sampai jatuh
cinta padanya, dan sampai memberikan perhatian lebih padanya. Ingatlah apa yang
akan terjadi pada dirimu”, Bondan langsung saja kaget mendengar perkataan teman
dekatnya, Alex. Seketika ia menjadi ingat tentang apa yang akan terjadi, sikap
Bondan pada Delia sangat berubah seratus delapan puluh derajat. Hal itu membuat
Delia sakit hati dan merasa dipermainkan olehnya.
Di dalam situasi seperti
ini, datanglah seseorang bernama Fardhan yang menghibur Delia. Fardhan telah
lama menaruh hati pada Delia, namun ia tak memberanikan diri untuk
mengungkapkannya. Namun, itu tak merubah sedikitpun suasana hati Delia.
Sementara di sisi lain, Bondan asyik bergurau dengan Felish, Delia yang
melihatnya langsung mengira bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Itu
membuat hati Delia hancur berkeping-keping.
Malam harinya, Delia menangis
sejadi-jadinya sampai ia terlelap tidur. Dia mimpinya, ia melihat teman dekatnya
yang bernama Laras berhenti di rumah Bondan. Ia melihat Bondan yang sedang
memasukkan koper-koper ke dalam mobilnya. Bondan berkata pada Laras, “Ras,
tolong bilang ke Adel (panggilannya kepada Delia), kalau aku akan pergi dan
mungkin tak akan kembali kesini, bilang ke dia, jangan pernah nangisin aku ya.
Buat dia terus tersenyum.” Seketika, Delia langsung terbangun, ia tak percaya
dengan mimpinya itu. Air mata kembali menetes membasahi pipinya.
Di sekolahpun ia tak bisa
fokus ke pelajaran. Delia terus mencari informasi ke teman-teman terdekat
Bondan. Pada akhirnya, Deliapun tahu bahwa Bondan akan pindah di akhir semester
dua ini. Rasa sakit itu kembali tersa, dan air matapun meleleh tanpa kendali.
Sikap Delia makin berubah
drastis, hal ini menjadi tanda tanya besar di benak para sahabatnya.Delia
menjadi pemurung, pendiam, dan suka marah-marah. Seringkali teman-temannya
melihat air matanya mengalir, namun apa daya, teman-temannya tak ada yang tahu
penyebab itu semua.
Ketika di perpustakaan,
Delia yang sedang membaca dengan malasnya didatangi oleh fardhan, “Hai Del,
sedang baca buku apa?”, Delia hanya diam. Hal ini mebuat Fardhan semakin
penasaran. Namun tak disangka, datanglah Bondan, ia melihat Delia menangis,
terasa hatinya penuh sesak dan sangat mengganjal. “fardhan, lebih baik kita
pergi dari sini”, dengan sinis Delia dan fardhan meninggalkan perpustakaan.
Setelah kejadian itu, Bondan menjadi sangat merasa bersalah.
Ujian sekolah semakin
dekat, namun Delia tak bisa fokus dengan belajarnya. Dan seringkali malah
dipertemukan dengan Bondan tanpa sengaja di dalam les privat, membuat Delia
semakin terlarut ke dalam sedihnya.
*******
Liburan sekolahpun tiba,
Delia hanya tinggal menunggu saat-saat itu. Malam minggu, Bondan mengadakan
pesta perpisahan di rumahnya, namun Delia tak pernah datang dan itu membuat
Bondan putus asa dan sakit hati. Tanpa sepengetahuan Bondan, Delia berlibur ke
sebuah pantai dan menulis sebuah puisi
KEPERGIANMU
Di sebuah sore yang gelap kelabu
Kau mengemas barang-barangmu
Lalu, kau masukkan ke dalam koper berwarna
hitam
Aku tahu,kau tak ingin aku bersedih karena
kepergianmu
Kau tak ingin aku menangis karena
kepergianmu
Akupun tak menemani detik-detik kepergianmu
Karena,kau pasti tahu mengapa ku lakukan
itu…….
Aku melakukan itu karena aku tak rela
melihatmu pergi
Lalu,kau hanya menitipkan sebuah kata-kata
pada sahabatku
Kau berkata “Aku sudah pergi,dan jangan
bersedih karena kepergianku”
Mendengar kata-kata itu diucapkan
Aku hanya bisa menangis dan menangis
Lalu,sahabatku berkata “Cepat kejar dia…!”
Aku pun menuruti permintaan sahabatku
Namun,apa yang kudapat……..
Kau telah pergi jauh dan aku tak bisa
mengejarmu
Kini…….
Aku hanya bisa bersedih
Aku hanya bisa menyesali keprgianmu
Aku lebih baik mati, daripada hidup hanya
‘tuk menangisimu…………
Delia
memasukkannya ke dalam botol dan menghanyutkannya ke dalam air laut yang
berombak, sambil menangis dia berkata “aku tak pernah merasa sesedih ini”. Ia
pun kembali ke hotel dan berusaha menghapus air matanya.
*********
27 Juni 2012
Dear diary,
Dapatkah kau bayangkan perasaanku saat
ini?. Coba kamu bayangkan, orang yang aku sayang sekarang sudah pergi jauh dari
hidupku dan aku tak bisa bertemu dengannya lagi. Aku sangat bodoh,
menyia-nyiakan waktu yang ada. Bagaimana jika aku merindukannya, sedangkan tak
satupun kenangan yang aku punya bersamanya.
Tepat seminggu sebelum hari ulang tahun
Delia, Bondan pergi meninggalkannya. Sekarang, mungkin Bondan sudah mempunyai
pengganti Delia. Delia takut jika Bondan melupakannya. Delia takut jika Bondan
tak mengenalinya lagi.
Delia menjadi pemurung dan
suka melamun, dia pernah berhujan-hujan sampai pingsan. Kondisi tubuhnya tidak
stabil, dan akhirnya ia masuk rumah sakit. Tepat di hari ulang tahunnya yang
terakhir, ia berpesan pada sahabatnya, “aku berharap Bondan kembali kesini, dan
katakan padanya jangan menangisi aku nanti”, sesaat setelah itu, kedua matanya
tertutup untuk selama- lamanya. Tangisanpun meledak di ruangan rumah sakit itu.
********
“Akhirnya aku bisa kembali
kesini bertemu kalian semua” , kta Bondan yang pada liburan sekolah mengunjungi
teman-temannya. Bondan yang awalnya berpikir ketidak hadiran Delia dikarenakan
tak ingin teringat masa lalunya. Laras memberi tahu apa yang terjadi setelah
Bndan pergi, membuat Bondan shock dan langsung meneteskan air matanya.Ia
langsung pergi menuju pemakaman.
Sesampainya di sana...... “
Maafkan semua kesalahanku, sungguh aku juga menyayangimu, namun semua ini
terlambat kau tak akan bisa kembali lagi. Semoga kita nanti dipertemukan lagi
oleh tuhan.”
TAMAT
Cerpen karya : Delia Paramita
Facebook : dhellia.paramitha
TTL :Blitar, 8 juli 1999
Sekolah : SMPN 1 Srengat
Kelas : 8 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar