Jumat, 08 Februari 2013

Cerpen Cinta



MASIHKAH KAU MENGINGATKU?
11 Juli 2011
Dear diary, hari ini sangat membosankan. Kupikir MOS itu kegiatan yang asyik, tapi aku malah dapat mala petaka yang tak terduga sama sekali. Jika kau menjadi diriku sekarang, pasti rasanya malas untuk masuk sekolah besok, karena apa kau tahu?...  karena seseorang yang sangat menyebalkan harus satu kelompok denganku.  Dia terlalu lebay dan sok keren!. Aku sangat benci padanya.
     Itulah kutipan diary Delia, seorang siswi yang sedang menjalani MOS yang sangat membosankan baginya. Seorang laki-laki bernama Bondan adalah penyebabnya. Tak ada yang pernah melihat mereka akur dalam sedetikpun, walau dalam situasi yang tak mendukung sekalipun. “Jangan banyak berkomentar, kamu pikir kamu yang paling hebat disini, jangan bermimpi  terlalu tinggi. Sebaiknya lihat dulu dirimu!” kata Delia pada Bondan. Tak mau kalah, Bondan balik membalas “Kamu ini perempuan cerewet ya, selalu berkomentar panjang lebar, apa kamu pikir yang mendengar tidak bosan?” ejek Bondan.  Begitulah setiap hari, selama ini, tak pernah ada yang melihat mereka akur.
     Menjelang hari ulang tahun sekolah, semua terlihat sibuk untuk menyiapkan kelasnya, hal itu juga terjadi pada kelas Delia. Pada suatu sore yang cerah, semua murid kelas VII berkumpul untuk menghias stand untuk ulang tahun sekolah besok. Tak ketinggalan Delia dan Bondan, terlihat mereka sedang beradu mulut lagi, “Kamu lihat tidak, teman-teman sedang sibuk mempersiapkan semuanya untuk besok, kamu malah enak-enakan mendengarkan musik disini” tegur Bondan. Delia membalas dengan perkataan yang membuat Bondan menyingkir darinya, “Terserah apa yang ingin kulakukan, memangnya kamu siapa, orang tuaku? Seenaknya menegurku.”
     Malam harinya, sehabis pulang dari rumah teman dekatnya, Bondan mengendarai sepeda motor dengan kencang, dan peristiwa naas pun terjadi. Tulang tangan Bondan patah dan ia harus absen dari sekolah untuk beberapa minggu. Siapa yang menyangka, saat peristiwa naas itu terjadi, Delia gelisah dan tak bisa tidur di rumahnya, firasatnya selalu mengatakan hal yang buruk. Ketika Delia mendengar kabar itu keesokan harinya, dia merasa ada bagian yang hilang dari hidupnya, dan pensi Dies Natalis sekolahnya terasa amat membosankan. Ia sendiri bertanya-tanya, mengapa dia merasakan kegelisahan yang amat mendalam.
     Hari-hari di kelas Delia tak lagi meriah. Karena Bondan yang sedang terbaring menahan sakit di tangannya. Ingin sekali Delia bertanya bagaimana kabarnya, namun rasa gengsi menutupi semua itu.
********
     Setelah beberapa minggu berlalu, Bondan kembali masuk sekolah. Semua merasa senang, dan kericuhan kembali terjadi. Delia tak tahu mengapa hatinya menjadi sejuk kembali dan ceria seperti biasanya. Dia tak terlalu memikirkan tentang apa yang dia rasakan.
     Hari-hari selanjutnya, sudah pasti terjadi kericuhan-kericuhan dan perdebatan yang membuat siapapun yang mendengarnya tak bisa menahan tawa. “Cepetan minggir, halangin orang yang mau lewat saja” gertak Bondan, “Kamu itu ya, baru saja masuk sekolah sudah membuat keributan denganku. Awas ya kalau macam-macam, aku akan memberikanmu sesuatu yang lebih buruk daripada melepas gips ditanganmu sebelum waktunya” ancam Delia. Namun Bondan yang sudah bosan pergi berlalu begitu saja, dan itu membuat Delia menjadi semakin dendam padanya.
*******
     Hari berganti hari, semester satu berlalu begitu cepat bagai angin yang berhembus. Dan liburan semester tiba, tak sedikitpun raut bahagia yang terintas di wajah Delia. Ia menganggap liburan ini adalah hal yang paling membosankan dalam hidupnya. Orangtuanya terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga Delia hanya bisa berdiam diri di rumah menghabiskan liburannya.
     Sesaat, terlintas wajah Bondan dibenaknya, membuatnya gelisah ta karuan lagi dan rasanya ingin sekalii menghubunginya dan menanyakan apa yang dilakukannya selama liburan ini. “oh tuhan, mengapa jadi seperti ini, mengapa aku selalu memikirkannya. Sungguh hal yang tak penting dalam hidupku ini” Delia berkata dalam hati dengan memejamkan matanya hingga terlelap tidur.
     Keesokan paginya, ia bangun dengan malasnya dan menyalakan TV di kamarnya. Tayangan di TV sangat mengingatkannya pada dirinya sendiri, yaitu tentang kebencian yang berubah menjadi cinta yang luar biasa.”Oh....tidakk!” pekiknya gundah. Setelah hari itu, Delia tak bisa sedetikpun tanpa Bondan yang dipikirkannya. Ia berharap, semoga hari sekolah cepat datang.
*******
     Pagi itu Delia bangun kesiangan, padahal inilah hari yang ia tunggu-tunggu. Dampaknya adalah ketika ia harus berbarengan menuju kelas dengan Bondan. Sepertinya, dari raut wajah mereka, terlihat jika mereka salah tingkah dan pipi mereka merona. Bondan yang ingin memulai perdebatan namun malah berakhir dengan senyuman canggung dari Delia. Rasanya hari itu seperti terbang tinggi sampai ke Jupiter.
     Di kelaspun mereka jarang lagi terlibat cekcok dan ini membuat teman-teman mereka heran. Hingga salah satu dari teman sekelas mereka berpikir bahwa kebencian yang selama ini ada pada mereka berubah menjadi cinta. Dan setiap mereka berpapasan atau terlihat sedikit akrab saja, teman-teman mereka tidak segan-segan untuk menyorakinya.
     “Kau tak boleh sampai jatuh cinta padanya, dan sampai memberikan perhatian lebih padanya. Ingatlah apa yang akan terjadi pada dirimu”, Bondan langsung saja kaget mendengar perkataan teman dekatnya, Alex. Seketika ia menjadi ingat tentang apa yang akan terjadi, sikap Bondan pada Delia sangat berubah seratus delapan puluh derajat. Hal itu membuat Delia sakit hati dan merasa dipermainkan olehnya.
     Di dalam situasi seperti ini, datanglah seseorang bernama Fardhan yang menghibur Delia. Fardhan telah lama menaruh hati pada Delia, namun ia tak memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Namun, itu tak merubah sedikitpun suasana hati Delia. Sementara di sisi lain, Bondan asyik bergurau dengan Felish, Delia yang melihatnya langsung mengira bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Itu membuat hati Delia hancur berkeping-keping.
Malam harinya, Delia menangis sejadi-jadinya sampai ia terlelap tidur. Dia mimpinya, ia melihat teman dekatnya yang bernama Laras berhenti di rumah Bondan. Ia melihat Bondan yang sedang memasukkan koper-koper ke dalam mobilnya. Bondan berkata pada Laras, “Ras, tolong bilang ke Adel (panggilannya kepada Delia), kalau aku akan pergi dan mungkin tak akan kembali kesini, bilang ke dia, jangan pernah nangisin aku ya. Buat dia terus tersenyum.” Seketika, Delia langsung terbangun, ia tak percaya dengan mimpinya itu. Air mata kembali menetes membasahi pipinya.
     Di sekolahpun ia tak bisa fokus ke pelajaran. Delia terus mencari informasi ke teman-teman terdekat Bondan. Pada akhirnya, Deliapun tahu bahwa Bondan akan pindah di akhir semester dua ini. Rasa sakit itu kembali tersa, dan air matapun meleleh tanpa kendali.
     Sikap Delia makin berubah drastis, hal ini menjadi tanda tanya besar di benak para sahabatnya.Delia menjadi pemurung, pendiam, dan suka marah-marah. Seringkali teman-temannya melihat air matanya mengalir, namun apa daya, teman-temannya tak ada yang tahu penyebab itu semua.
     Ketika di perpustakaan, Delia yang sedang membaca dengan malasnya didatangi oleh fardhan, “Hai Del, sedang baca buku apa?”, Delia hanya diam. Hal ini mebuat Fardhan semakin penasaran. Namun tak disangka, datanglah Bondan, ia melihat Delia menangis, terasa hatinya penuh sesak dan sangat mengganjal. “fardhan, lebih baik kita pergi dari sini”, dengan sinis Delia dan fardhan meninggalkan perpustakaan. Setelah kejadian itu, Bondan menjadi sangat merasa bersalah.
     Ujian sekolah semakin dekat, namun Delia tak bisa fokus dengan belajarnya. Dan seringkali malah dipertemukan dengan Bondan tanpa sengaja di dalam les privat, membuat Delia semakin terlarut ke dalam sedihnya.
*******
     Liburan sekolahpun tiba, Delia hanya tinggal menunggu saat-saat itu. Malam minggu, Bondan mengadakan pesta perpisahan di rumahnya, namun Delia tak pernah datang dan itu membuat Bondan putus asa dan sakit hati. Tanpa sepengetahuan Bondan, Delia berlibur ke sebuah pantai dan menulis sebuah puisi
KEPERGIANMU

Di sebuah sore yang gelap kelabu
Kau mengemas barang-barangmu
Lalu, kau masukkan ke dalam koper berwarna hitam

Aku tahu,kau tak ingin aku bersedih karena kepergianmu
Kau tak ingin aku menangis karena kepergianmu
Akupun tak menemani detik-detik kepergianmu
Karena,kau pasti tahu mengapa ku lakukan itu…….
Aku melakukan itu karena aku tak rela melihatmu pergi

Lalu,kau hanya menitipkan sebuah kata-kata pada sahabatku
Kau berkata “Aku sudah pergi,dan jangan bersedih karena kepergianku”
Mendengar kata-kata itu diucapkan
Aku hanya bisa menangis dan menangis

Lalu,sahabatku berkata “Cepat kejar dia…!”
Aku pun menuruti permintaan sahabatku

Namun,apa yang kudapat……..
Kau telah pergi jauh dan aku tak bisa mengejarmu
Kini…….
Aku hanya bisa bersedih
Aku hanya bisa menyesali keprgianmu
Aku lebih baik mati, daripada hidup hanya ‘tuk menangisimu…………
    
Delia memasukkannya ke dalam botol dan menghanyutkannya ke dalam air laut yang berombak, sambil menangis dia berkata “aku tak pernah merasa sesedih ini”. Ia pun kembali ke hotel dan berusaha menghapus air matanya.
*********
27 Juni 2012
Dear diary,
     Dapatkah kau bayangkan perasaanku saat ini?. Coba kamu bayangkan, orang yang aku sayang sekarang sudah pergi jauh dari hidupku dan aku tak bisa bertemu dengannya lagi. Aku sangat bodoh, menyia-nyiakan waktu yang ada. Bagaimana jika aku merindukannya, sedangkan tak satupun kenangan yang aku punya bersamanya.
     Tepat seminggu sebelum hari ulang tahun Delia, Bondan pergi meninggalkannya. Sekarang, mungkin Bondan sudah mempunyai pengganti Delia. Delia takut jika Bondan melupakannya. Delia takut jika Bondan tak mengenalinya lagi.
     Delia menjadi pemurung dan suka melamun, dia pernah berhujan-hujan sampai pingsan. Kondisi tubuhnya tidak stabil, dan akhirnya ia masuk rumah sakit. Tepat di hari ulang tahunnya yang terakhir, ia berpesan pada sahabatnya, “aku berharap Bondan kembali kesini, dan katakan padanya jangan menangisi aku nanti”, sesaat setelah itu, kedua matanya tertutup untuk selama- lamanya. Tangisanpun meledak di ruangan rumah sakit itu.
********
     “Akhirnya aku bisa kembali kesini bertemu kalian semua” , kta Bondan yang pada liburan sekolah mengunjungi teman-temannya. Bondan yang awalnya berpikir ketidak hadiran Delia dikarenakan tak ingin teringat masa lalunya. Laras memberi tahu apa yang terjadi setelah Bndan pergi, membuat Bondan shock dan langsung meneteskan air matanya.Ia langsung pergi menuju pemakaman.
     Sesampainya di sana...... “ Maafkan semua kesalahanku, sungguh aku juga menyayangimu, namun semua ini terlambat kau tak akan bisa kembali lagi. Semoga kita nanti dipertemukan lagi oleh tuhan.”
TAMAT

Cerpen karya : Delia Paramita
Facebook : dhellia.paramitha
TTL :Blitar, 8 juli 1999 
Sekolah : SMPN 1 Srengat
Kelas : 8 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar