SEANDAINYA AKU
HIDUP DI ZAMAN 17 AGUSTUS 1945
Hari
demi yang ku lewati sangat kelam dan mungkin pemikiran masyarakat yang ada di
sini juga sama denganku. Kami harus selalu mengapdi pada Jepang jikalau kami
tak menurutinya kami akan jadi santapan buaya-buaya besar. Oh, Iya perkenalkan
namaku Afi umurku 13 tahun. Aku adalah anak keturunan suku jawa.
Banyak
orang yang berjuang dalam penjajahan ini termasuk ayahku. Tetapi banyak pula
yang tewas, mereka selalu tidak di makamkan dengan baik ada yang di buang
begitu saja ke sungai ada pula yang hanya di biarkan sampai mereka membusuk.
Aku dan teman – teman sebayaku mempunyai ide untuk memakamkan mereka dengan
layak tanpa sepengetahuan tentara Jepang. Jika kami ketahuan maka di penggalah
kepala kami satu persatu.
Hari
ini tepat dengan bulan puasa, tetapi menurutku sama saja dengan hari yang lain
karena kami sudah terbiasa di beri makan 1 kali sehari bahkan kami pernah tak
makan sama sekali hanya meminum air sungai yang mentah dan kotor untuk melepas
dahaga.
Hari
ini entah hari apa aku tak tau nama hari karena di desaku tak ada seorangpun
yang pernah menginjakan kakinya di sekolah. Bukan karena kami tak mau tapi
tidak ada sekolah di desa kami. Walaupun begitu kami tetap semangat dan kami
tau pagi,siang,sore dan malam. Pagi-pagi buta kami harus membuat batu bara yang
panas tanpa sapu tangan tapi sudah terbiasa merasakan panas itu sampai-sampai
tangan kami hitam seperti kuali wajan.
Sampai
sore kami terus bekerja dengan terus di awasi oleh tentara Jepang yang berkumis
tebal itu. Setiap aku melihatnya aku selalu penasaran apakah kumis itu asli
atau palsu tetapi jika aku bertanya bukannya aku mendapat jawaban tapi mungkin
aku bakal kena marah maka lebih baik aku diam. Tiba – tiba kerumunan teman –
teman seperjuanganku datang yang dulunya muka mereka kusut, udah berubah kayag
abiz di setrika.
Mereka memeluk dan mencubit
pipiku secara bergantian dan berkata “Rek ngerti kabar apik ra?” tanya mereka.
Lalu ku jawab “durung emange opo to?” kemudian mereka menjawab “Jepang kalah
lawan sekutu !”. Kemudian aku mencerna perkataan itu sekitar 5 menit tetapi aku
belum mendapat titik terang sama sekali sampai – sampai mereka menjitak
kepalaku -_-“. Lalu aku bertanya “Terus napo to rek ?”, mereka menjawab “Ya
Allah, sabar ampunilah dosa-dosaku dan teman-temanku, dosa apa sampai aku punya
teman sepertinya ?” lalu aku mencubit lengannya dan berkata “Untung wayane
nduwe konco seng imut karo manis koyog aku !”.
Menjelang
maghrib kami di kumpulkan untuk di beri makan. Yang ku dengar hanyalah berita
kekalahan Jepang saja dari tadi. Untung tentara Jepang tidak ada yang tau
bahasa kami jadi kami merasa aman. Ketika kami sedang bersenda gurau tiba –
tiba tentara Jepang menghampiri kami dan mengambil jatah makananku. Aku marah
“Biuh, aku sek mangan sak sendok wes di jupuk la konco-koncoku liane kok ra di
jupuk panganane. Awas yo pilih kasih lek sok aku dadi presidenmu ra tak kei
pakan genti we !” gerutu dalam hati. Teman-temaku menertawakanku, akupun tak
kehabisan akal ku ambil jatah mereka karena aku yang paling kecil aku berkata “seng
gedhe ngalah ra mesakne seng cilik :-P” merek marah tetapi hanya
mengelus-ngelus dada dan berkata “SABAR” secara serempak.
Keesokan
harinya kami mendapat berita yang sangat menarik yaitu Indonesia akan merdeka,
kamipun senang. Tetapi tetap saj perjuangan tak sampai disini saja kita harus
melanjutkan perjuangan para pahlawan kita yang telah berjasa terhadap semuanya.
AKU BANGGA JADI ANAK INDONESIA
Cerpen karya : Hawa Gazani
Facebook : hawa.syankcemua
TTL :Blitar, 16 Oktober 1999
Sekolah : SMPN 1 Srengat
Kelas : 8 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar